Sabtu, 10 Januari 2015

Pertemuan Kelima



Prinsip Dasar dan Tujuan Teori Belajar Kognitif
Berdasarkan Drs. Bambang Warsita yang menyatakan tentang prinsip-prinsip dasar teori kognitif, antara lain:
1.      Pembelajaran merupakan suatu perubahan status pengetahuan.
2.      Peserta didik merupakan peserta aktif didalam proses pembelajaran.
3.      Menekankan pada pola fikir peserta didik.
4.      Berpusat pada cara peserta didik mengingat, memperoleh kembali dan menyimpan informasi dalam ingatanya.
5.      Menekankan pada pengalaman belajar, dengan memandang pelajaran sebagai proses aktif didalam diri peserta didik.
6.      Menerapkan reward dan punishment.
7.      Hasil pembelajaran tidak hanya bergantung dari apa yang disampaikan oleh guru, tetapi juga pada cara peserta didik memperoleh informasi tersebut.
Sudirman, dkk. Mengemukakan tujuan pembelajaran merupakan tujuan yang berbentuk tingkah laku atau kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah proses belajar mengajar. Reece dan walker, menjelaskan guru perlu mengetahui kemana seharusnya siswa diarahkan dan apa yang akan dipelajari siswa. Dengan cara ini, guru mengetahui kapan siswa sampai kesana. Dalam bahasa pendidikan, hal ini menuntut guru untuk mengidentifikasi hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran tersebut dapat dinyatakan dengan tujuan dan sasaran. Pada intinya, tujuan dan sasaran ini merupakan harapan dari apa yang dapat dilakukan siswa pada akhir pembelajaranya.

Tujuan Teori Belajar Kognitif
Teori kognitif dikembangkan terutama untuk membantu guru memahami orang lain, terutama muridnya. Ternyata hal ini dapat membantu si guru untuk memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Dalam teori kognitif belajar diartikan proses interaksional di mana seseorang memperoleh insight baru atau struktur kognitif dan merubah hal-hal yang lama.
Teori belajar kognitif dibentuk dengan tujuan mengkonstruksi prinsip-prinsip belajar secara ilmliah yang dapat diterapkan ke situasi kelas dengan menghasilkan prosedur-prosedur di kelas untuk mendapatkan hasil yang paling produktif. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas dirinya dan lingkungannya lalu menafsirkan bahwa diri dan lingkungan psikologisnya merupakan faktor-faktor yang saling tergantung satu dan lainnya. Teori ini dikembangkan berdasarkan tujuan yang melatar belakangi prilaku, cita-cita, cara-cara seseorang dan bagaimana seseorang memahami diri dan lingkungannya dalam usaha untuk mencapai tujuan orang tersebut. Setiap pengertian yang diperoleh berdasarkan pengertian yang diperoleh dari memahami diri sendiri dan lingkungannya yang disebut insight.
Apakah Insight ?
Menurut teori ini insight adalah pemahaman dasar yang dapat diaplikasikan pada beberapa situasi yang sama atau hampir sama. Insight adalah pemahaman terhadap suatu situasi yang lebih mendalam daripada kata-kata dan secara sadar memahami masalah. Jadi insight adalah inti dari pemahaman.
Berdasarkan berbagai pandangan di atas, maka prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Belajar merupakan peristiwa mental yang berhubungan dengan berfikir, perhatian, persepsi, pemecahan masalah dan kesadaran walaupun tidak tampak merupakan sesuatu yang diteliti.
2.      Sehubungan dengan pembelajaran, teori belajar perilaku dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa guru harus memperhatikan perilaku si belajar yang tampak seperti penyelesaian tugas rumah, hasil tes, di samping itu juga harus memperhatikan faktor manusia dan lingkungan psikologisnya.
3.      Ahli kognitif percaya bahwa kemampuan berfikir orang tidak sama antara yang satu dengan yang lain dan tidak tetap dari waktu ke waktu yang lain.
Model Teori Belajar Brunner
Menurut Jerome Bruner , belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yakni :
a.       Memperoleh informasi baru. Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi tersebut dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang.
b.      Transformasi informasi. Transformasi informasi / pengetahuan menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan.Informasi yang diperoleh , kemudian dianalisis , diubah atau ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal – hal yang lebih luas.
c.       Evaluasi. Evaluasi merupakan proses menguji relevasi dan ketepatan pengetahuan. Proses ini dilakukan dengan menilai apakah cara kita memperlakukan pengetahuan tersebut cocok atau sesuai dengan prosedur yang ada.
Bruner membagi perkembangan kognitif anak atas tahap – tahap tertentu. Menurut Bruner ada 3 tahap , yakni :
1.      Enaktif ( enactive )
Tahap ini merupakan tahap representasi pengetahuan dalam melakukan tindakan . Pada tahap ini anak dalam tahap belajarnya menggunakan atau memanipulasi obyek – obyek secara langsung.

2.      Ikonik ( iconic )
Tahap yang merupakan perangkuman bayangan secara visual. Pada tahap ini anak melihat dunia melalui gambar – gambar atau visualisasi.Dalam belajarnya , anak tidak memanipulasi obyek – obyek secara langsung, tetapi sudah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari obyek.
3.      Simbolik ( Symbolic )
Tahap ini merupakan tahap memanipulasi symbol – symbol secara langsung dan tidak lagi menggunakan obyek – obyek atau gambaran obyek. Pada tahap ini anak memiliki gagasan – gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika.

            Menurut Bruner, untuk mengajarkan sesuatu tidak perlu ditunggu sampai anak mencapai suatu tahap perkembangan tertentu. Apabila bahan yang diberikan diatur dengan baik , maka anak dapat belajar meskipun usianya belum memadai. Jadi perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan cara mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya.Penerapan teori Bruner ini  dikenal sebagai “Kurikulum spiral “.
            Dalam model intruksional , Bruner memperkenalkan model yang dikenal dengan nama belajar penemuan ( Discovery learning ). Dalam belajar penemuan ini siswa akan berperan lebih aktif . Siswa berusaha sendiri memecahkan masalah dan memperoleh pengetahuan tertentu. Dengan cara ini akan memperoleh pengetahuan yang benar – benar bermakna.
            Menurut Dahar, pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemu mempunyai beberapa kebaikan , yakni :
a.       Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat atau lebih mudah diingat , bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara – cara lain.
b.      Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada prinsip belajar lainnya.Dengan kata lain , konsep – konsep dan prinsip – prinsip yang dijadikan milik kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi baru.
c.       Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.Secara khusus belajar penemuan melatih ketrampilan – ketrampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.

Ciri khas Teori Pembelajaran Menurut Bruner
a). Empat Tema tentang Pendidikan
Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Hal ini perlu karena dengan struktur pengetahuan kita menolong siswa untuk untuk melihat, bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain.
Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. Menurut Bruner kesiapan terdiri atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang lebih tinggi.Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. Dengan intuisi, teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupaka kesimpulan yang sahih atau tidak.Tema keempat adalah tentang motivasi atau keingianan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu.
b). Model dan Kategori
Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi. Asumsi pertama adalah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Berlawanan dengan penganut teori perilakau Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan tetapi juga dalam diri orang itu sendiri.
Asumsi kedua adalah bahwa orang mengkontruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya, suatu model alam (model of the world).   Model Bruner ini mendekati sekali struktur kognitif Aussebel. Setiap model seseorang khas bagi dirinya. Dengan menghadapi berbagai aspek dari lingkungan kita, kita akan membentuk suatu struktur atau model yang mengizinkan kita untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal-hal yang diketahui.   
c). Belajar sebagai Proses Kognitif
Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah :
(1) memperoleh informasi baru,
(2) transformasi informasi dan
(3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Bruner, 1973).
Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi itu dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. Dalam transformasi pengetahuan seseorang mempelakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah bentuk lain.
Model Teori Kognitif dari Ausubel
Menurut David P.Ausubel belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran disajikan kepada siswa,melalui peneriaan atau penemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi tersebut pada sruktur kognitif yang telah ada.
Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan pada siswa dalam bentuk :
  Belajar penerimaan (reception learning) yang menyajikan informasi tersebut dalam betuk final.
  Belajar penemuan (discovery learning) yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang dipelajari.

Pada tingkat kedua siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi tersebut pada konsep – konsep dalam struktur kognitifisme dalam hal ini terjadi : 
1.      Siswa memiliki meaningful leaening set, yaitu sikap mental yang mendukung terjadinya kegiatan belajar yang bermakna. Contoh: siswa betul-betul mempunyai keinginan yang kuat untuk memahami hal-hal yang akan dipelajri, dan berusaha untuk mengaitkan hal-hal baru yang dipelajri dengan hal-hal lama yang telah ia ketahui, yang kiranya relevan.
2.      Materi yang akan dipelajari atau tugas yang akan dikerjakan siswa adalah materi atau tugas  yang bermakna bagi siswa; artinya, materi atau tugas tersebut terkait dengan struktur kognitif yang pada saat itu telah dimiliki siswa, sehingga dengan demikian siswa bisa mengasimilisasikan pengetahuan-pengetahuan baru yang dipelajri itu kedalam struktur kognitif yang ia miliki. Dan dengan demikian, struktur kognitif siswa mengalami perkembangan.
Ausubel mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda. Pada belajar menerima,isi pokok yang akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan . Ausubel juga menjelaskan bahwa perbedaan antara belajar hafalan dan belajar bermakna sering dicampuradukkan dengan perbedaan antara belajar menerima dan belajar menemukan.Pencampuradukkan ini disebabkan adanya anggapan bahwa belajar menerima adalah hafalan,sedangkan belajar menemukan adalah bermakna.
Menghafal sebenarnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian hingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh tersebut ke dalam sruktur kognitifnya. Belajar hafalan adalah suatu proses belajar yang dilakukan dengan mengingat kata demi kata .sedangkan belajar bermakna merupakan rangkaian proses belajar yang memberikan hasil yang bermakna.
       Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sah dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.
       Demikian pemaparan dari dua dimensi pembelajaran tersebut terdapat empat kemungkinan tipe belajar,yakni :
o   Belajar menerima yang bermakna
Ini terjadi bila informasi yang telah disusun secara logic disajikan kapada siswa dalam bentuk final.Selanjutnya siswa menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang telah ia miliki.
o   Belajar penemuan yang bermakna
Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa.Siswa kemudian menghubungkan pengetahuan baru tersebut dengan struktur kognitif yang dimilikinya.
o   Belajar menerima yang hapalan(tidak bermakna)
Ini terjadi bila informasi disajikan kepada siswa dalam bentuk final,siswa kemudian menghapalnya.
o   Belajar penemuan yang hapalan ( tidak bermakna )
Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa.Siswa kemudian menghapal pengetahuan baru tersebut.

Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah :
1.      Pengatur awal (advance organizer)
Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya.
2.      Diferensiasi Progregsif
Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep- konsep. Caranya unsure yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. Ausubel (Dahar ,1989 :141) ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu :
a)      Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat,
b)      Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip
c)      Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Inti dari teori Ausubel tentang belajar adalah “ belajar bermakna”.Ausubel selanjutnya memberikan dua prasyarat untuk belajar menerima yang bermakna , yakni :
  Siswa telah memiliki satu himpunan belajar bermakna.Artinya kondisi dan sikap siswa telah siap untuk mengerjakan tugas belajar yang sesuai dengan tujuan mereka.
  Tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitif siswa , sehingga siswa dapat mengasimilasikan bahan baru tersebut secara bermakna.Belajar bermakna terdahulu merupakan dasar atau penguat untuk belajar baru,sehingga belajar baru dan retensi tidak menjadi belajar hafalan.
Ausubel mengembangkan suatu cara yang disebut sebagai ”Advance Organizer” untuk mengorientasikan siswa pada materi yang akan dipelajari dan membantu mereka untuk mengingat kembali informasi – informasi yang berkaitan dan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatukan informasi – informasi baru yang akan dipelajari.
Menurut Ausubel , paling sedikit terdapat tiga tujuan yang dapat dicapai oleh advance organizer. Pertama, advance organizer memberikan kerangka konseptual untuk belajar yang akan terjadi berikutnya. Kedua, advance organizer dipilih secara seksama sehingga dapat menjadi  penghubung antara simpanan informasi siswa saat ini dan belajar yang baru. Ketiga berlaku sebagai jembatan antara struktur kognitif lama dan struktur kognitif yang masih akan diperoleh.

Semoga Bermanfaat...
Eka Hendra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar