Prinsip Dasar dan
Tujuan Teori Belajar Kognitif
Berdasarkan Drs. Bambang Warsita yang menyatakan tentang prinsip-prinsip
dasar teori kognitif, antara lain:
1.
Pembelajaran
merupakan suatu perubahan status pengetahuan.
2.
Peserta didik
merupakan peserta aktif didalam proses pembelajaran.
3.
Menekankan pada
pola fikir peserta didik.
4.
Berpusat pada
cara peserta didik mengingat, memperoleh kembali dan menyimpan informasi dalam
ingatanya.
5.
Menekankan pada
pengalaman belajar, dengan memandang pelajaran sebagai proses aktif didalam
diri peserta didik.
6.
Menerapkan reward
dan punishment.
7.
Hasil
pembelajaran tidak hanya bergantung dari apa yang disampaikan oleh guru, tetapi
juga pada cara peserta didik memperoleh informasi tersebut.
Sudirman, dkk. Mengemukakan
tujuan pembelajaran merupakan tujuan yang berbentuk tingkah laku atau kemampuan
yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah proses belajar mengajar. Reece dan
walker, menjelaskan guru perlu mengetahui kemana seharusnya siswa diarahkan dan
apa yang akan dipelajari siswa. Dengan cara ini, guru mengetahui kapan siswa
sampai kesana. Dalam bahasa pendidikan, hal ini menuntut guru untuk
mengidentifikasi hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran tersebut dapat dinyatakan
dengan tujuan dan sasaran. Pada intinya, tujuan dan sasaran ini merupakan
harapan dari apa yang dapat dilakukan siswa pada akhir pembelajaranya.
Tujuan Teori Belajar Kognitif
Teori kognitif dikembangkan terutama untuk membantu guru memahami
orang lain, terutama muridnya. Ternyata hal ini dapat membantu si guru untuk
memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Dalam teori kognitif belajar
diartikan proses interaksional di mana seseorang memperoleh insight baru atau
struktur kognitif dan merubah hal-hal yang lama.
Teori belajar kognitif dibentuk dengan tujuan mengkonstruksi
prinsip-prinsip belajar secara ilmliah yang dapat diterapkan ke situasi kelas
dengan menghasilkan prosedur-prosedur di kelas untuk mendapatkan hasil yang
paling produktif. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang
mencapai pemahaman atas dirinya dan lingkungannya lalu menafsirkan bahwa diri
dan lingkungan psikologisnya merupakan faktor-faktor yang saling tergantung
satu dan lainnya. Teori ini dikembangkan berdasarkan tujuan yang melatar
belakangi prilaku, cita-cita, cara-cara seseorang dan bagaimana seseorang
memahami diri dan lingkungannya dalam usaha untuk mencapai tujuan orang
tersebut. Setiap pengertian yang diperoleh berdasarkan pengertian yang
diperoleh dari memahami diri sendiri dan lingkungannya yang disebut insight.
Apakah Insight
?
Menurut teori ini insight adalah pemahaman dasar yang dapat
diaplikasikan pada beberapa situasi yang sama atau hampir sama. Insight adalah
pemahaman terhadap suatu situasi yang lebih mendalam daripada kata-kata dan
secara sadar memahami masalah. Jadi insight adalah inti dari pemahaman.
Berdasarkan berbagai pandangan di atas, maka prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif dapat dirumuskan sebagai berikut :
Berdasarkan berbagai pandangan di atas, maka prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.
Belajar merupakan peristiwa mental
yang berhubungan dengan berfikir, perhatian, persepsi, pemecahan masalah dan
kesadaran walaupun tidak tampak merupakan sesuatu yang diteliti.
2.
Sehubungan dengan pembelajaran,
teori belajar perilaku dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa guru harus memperhatikan
perilaku si belajar yang tampak seperti penyelesaian tugas rumah, hasil tes, di
samping itu juga harus memperhatikan faktor manusia dan lingkungan
psikologisnya.
3.
Ahli kognitif percaya bahwa
kemampuan berfikir orang tidak sama antara yang satu dengan yang lain dan tidak
tetap dari waktu ke waktu yang lain.
Model Teori Belajar Brunner
Menurut Jerome
Bruner , belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan,
yakni :
a. Memperoleh informasi baru. Informasi baru dapat merupakan
penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi
tersebut dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi
sebelumnya yang dimiliki seseorang.
b. Transformasi informasi. Transformasi informasi /
pengetahuan menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan.Informasi yang
diperoleh , kemudian dianalisis , diubah atau ditransformasikan ke dalam bentuk
yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal – hal yang
lebih luas.
c. Evaluasi. Evaluasi merupakan proses menguji
relevasi dan ketepatan pengetahuan. Proses ini dilakukan dengan menilai apakah
cara kita memperlakukan pengetahuan tersebut cocok atau sesuai dengan prosedur
yang ada.
Bruner membagi perkembangan kognitif anak atas tahap – tahap
tertentu. Menurut Bruner ada 3 tahap , yakni :
1. Enaktif ( enactive )
Tahap ini merupakan tahap representasi
pengetahuan dalam melakukan tindakan . Pada tahap ini anak dalam tahap
belajarnya menggunakan atau memanipulasi obyek – obyek secara langsung.
2. Ikonik ( iconic )
Tahap yang merupakan perangkuman bayangan secara
visual. Pada
tahap ini anak melihat dunia melalui gambar – gambar atau visualisasi.Dalam
belajarnya , anak tidak memanipulasi obyek – obyek secara langsung, tetapi
sudah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari obyek.
3. Simbolik ( Symbolic )
Tahap ini merupakan tahap memanipulasi symbol –
symbol secara langsung dan tidak lagi menggunakan obyek – obyek atau gambaran
obyek.
Pada tahap ini anak memiliki gagasan – gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi
bahasa dan logika.
Menurut Bruner, untuk mengajarkan
sesuatu tidak perlu ditunggu sampai anak mencapai suatu tahap perkembangan
tertentu. Apabila bahan yang diberikan diatur dengan baik , maka anak dapat
belajar meskipun usianya belum memadai. Jadi perkembangan kognitif seseorang
dapat ditingkatkan dengan cara mengatur bahan yang akan dipelajari dan
menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya.Penerapan teori Bruner
ini dikenal sebagai “Kurikulum spiral “.
Dalam model intruksional , Bruner
memperkenalkan model yang dikenal dengan nama belajar penemuan ( Discovery
learning ). Dalam belajar penemuan ini siswa akan berperan lebih aktif . Siswa
berusaha sendiri memecahkan masalah dan memperoleh pengetahuan tertentu. Dengan
cara ini akan memperoleh pengetahuan yang benar – benar bermakna.
Menurut Dahar, pengetahuan yang
diperoleh dengan belajar penemu mempunyai beberapa kebaikan , yakni :
a. Pengetahuan itu bertahan lama atau
lama dapat diingat atau lebih mudah diingat , bila dibandingkan dengan
pengetahuan yang dipelajari dengan cara – cara lain.
b. Hasil belajar penemuan mempunyai
efek transfer yang lebih baik dari pada prinsip belajar lainnya.Dengan kata
lain , konsep – konsep dan prinsip – prinsip yang dijadikan milik kognitif
seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi baru.
c. Secara menyeluruh belajar penemuan
meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.Secara
khusus belajar penemuan melatih ketrampilan – ketrampilan kognitif siswa untuk
menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Ciri khas Teori Pembelajaran Menurut Bruner
a). Empat Tema tentang Pendidikan
Tema pertama mengemukakan pentingnya
arti struktur
pengetahuan. Hal ini perlu karena dengan struktur pengetahuan
kita menolong siswa untuk untuk melihat, bagaimana fakta-fakta yang
kelihatannya tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain.
Tema kedua adalah tentang kesiapan
untuk belajar. Menurut Bruner kesiapan terdiri atas penguasaan
ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang
untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang lebih tinggi.Tema ketiga
adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. Dengan
intuisi, teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi
tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah
formulasi-formulasi itu merupaka kesimpulan yang sahih atau tidak.Tema keempat
adalah tentang motivasi atau keingianan untuk
belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi
itu.
b). Model dan Kategori
Pendekatan Bruner terhadap belajar
didasarkan pada dua asumsi. Asumsi pertama adalah bahwa perolehan pengetahuan merupakan
suatu proses interaktif. Berlawanan
dengan penganut teori perilakau Bruner yakin bahwa orang yang belajar
berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi
di lingkungan tetapi juga dalam diri orang itu sendiri.
Asumsi kedua adalah bahwa orang mengkontruksi
pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang
disimpan yang diperoleh sebelumnya, suatu model alam (model of the world). Model Bruner ini mendekati sekali struktur
kognitif Aussebel. Setiap model seseorang khas bagi dirinya. Dengan menghadapi
berbagai aspek dari lingkungan kita, kita akan membentuk suatu struktur atau
model yang mengizinkan kita untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau
membangun suatu hubungan antara hal-hal yang diketahui.
c). Belajar sebagai Proses Kognitif
Bruner mengemukakan bahwa belajar
melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu
adalah :
(1) memperoleh informasi baru,
(2) transformasi informasi dan
(3) menguji relevansi dan ketepatan
pengetahuan (Bruner, 1973).
Informasi baru dapat merupakan
penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi
itu dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi
sebelumnya yang dimiliki seseorang. Dalam transformasi pengetahuan seseorang
mempelakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas baru. Jadi, transformasi
menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi
atau dengan mengubah bentuk lain.
Model Teori Kognitif dari Ausubel
Menurut David P.Ausubel belajar
dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan
cara informasi atau materi pelajaran disajikan kepada siswa,melalui peneriaan
atau penemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan
informasi tersebut pada sruktur kognitif yang telah ada.
Pada tingkat pertama dalam belajar,
informasi dapat dikomunikasikan pada siswa dalam bentuk :
Belajar penerimaan (reception
learning) yang menyajikan informasi tersebut dalam betuk final.
Belajar penemuan (discovery
learning) yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh
materi yang dipelajari.
Pada tingkat kedua siswa menghubungkan atau mengaitkan
informasi tersebut pada konsep – konsep dalam struktur kognitifisme dalam hal
ini terjadi :
1.
Siswa memiliki meaningful
leaening set, yaitu sikap mental yang mendukung terjadinya kegiatan belajar
yang bermakna. Contoh: siswa betul-betul mempunyai keinginan yang kuat untuk
memahami hal-hal yang akan dipelajri, dan berusaha untuk mengaitkan hal-hal
baru yang dipelajri dengan hal-hal lama yang telah ia ketahui, yang kiranya
relevan.
2.
Materi yang akan dipelajari
atau tugas yang akan dikerjakan siswa adalah materi atau tugas yang
bermakna bagi siswa; artinya, materi atau tugas tersebut terkait dengan
struktur kognitif yang pada saat itu telah dimiliki siswa, sehingga dengan
demikian siswa bisa mengasimilisasikan pengetahuan-pengetahuan baru yang
dipelajri itu kedalam struktur kognitif yang ia miliki. Dan dengan demikian,
struktur kognitif siswa mengalami perkembangan.
Ausubel mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar
menemukan adalah dua hal yang berbeda. Pada belajar menerima,isi pokok yang akan dipelajari diberikan
kepada siswa dalam bentuk catatan . Ausubel juga menjelaskan bahwa
perbedaan antara belajar hafalan dan belajar bermakna sering dicampuradukkan
dengan perbedaan antara belajar menerima dan belajar menemukan.Pencampuradukkan
ini disebabkan adanya anggapan bahwa belajar menerima adalah hafalan,sedangkan
belajar menemukan adalah bermakna.
Menghafal sebenarnya mendapatkan informasi yang
terisolasi sedemikian hingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang
diperoleh tersebut ke dalam sruktur kognitifnya. Belajar hafalan adalah suatu
proses belajar yang dilakukan dengan mengingat kata demi kata .sedangkan
belajar bermakna merupakan rangkaian proses belajar yang memberikan hasil yang
bermakna.
Faktor-faktor
utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur
kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang
studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif
menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru
masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang
terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka
arti-arti yang sah dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung
bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan,
dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan
retensi.
Demikian
pemaparan dari dua dimensi pembelajaran tersebut terdapat empat kemungkinan
tipe belajar,yakni :
o
Belajar
menerima yang bermakna
Ini terjadi bila informasi yang telah disusun
secara logic disajikan kapada siswa dalam bentuk final.Selanjutnya siswa
menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang telah ia
miliki.
o
Belajar
penemuan yang bermakna
Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh
siswa.Siswa kemudian menghubungkan pengetahuan baru tersebut dengan struktur
kognitif yang dimilikinya.
o
Belajar
menerima yang hapalan(tidak bermakna)
Ini terjadi bila informasi disajikan kepada
siswa dalam bentuk final,siswa kemudian menghapalnya.
o
Belajar
penemuan yang hapalan ( tidak bermakna )
Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh
siswa.Siswa kemudian menghapal pengetahuan baru tersebut.
Langkah
– langkah belajar bermakna Ausubel adalah :
1. Pengatur awal (advance organizer)
Pengatur
awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep
yang baru yang lebih tinggi maknanya.
2. Diferensiasi Progregsif
Dalam
pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep- konsep.
Caranya unsure yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih
mendetail. Ausubel (Dahar ,1989 :141) ada tiga kebaikan dari belajar bermakna
yaitu :
a) Informasi yang dipelajari secara
bermakna lebih lama dapat diingat,
b) Informasi yang dipelajari secara
bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip
c) Informasi yang dipelajari secara
bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Inti dari teori Ausubel tentang belajar adalah “ belajar bermakna”.Ausubel selanjutnya
memberikan dua prasyarat untuk belajar menerima yang bermakna , yakni :
Siswa
telah memiliki satu himpunan belajar bermakna.Artinya kondisi dan sikap siswa
telah siap untuk mengerjakan tugas belajar yang sesuai dengan tujuan mereka.
Tugas
belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitif siswa
, sehingga siswa dapat mengasimilasikan bahan baru tersebut secara bermakna.Belajar
bermakna terdahulu merupakan dasar atau penguat untuk belajar baru,sehingga
belajar baru dan retensi tidak menjadi belajar hafalan.
Ausubel mengembangkan suatu cara yang disebut sebagai
”Advance Organizer” untuk mengorientasikan siswa pada materi yang akan
dipelajari dan membantu mereka untuk mengingat kembali informasi – informasi
yang berkaitan dan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatukan
informasi – informasi baru yang akan dipelajari.
Menurut Ausubel , paling sedikit terdapat tiga
tujuan yang dapat dicapai oleh advance organizer. Pertama, advance organizer
memberikan kerangka konseptual untuk belajar yang akan terjadi berikutnya.
Kedua, advance organizer dipilih secara seksama sehingga dapat menjadi penghubung antara simpanan informasi siswa
saat ini dan belajar yang baru. Ketiga berlaku sebagai jembatan antara struktur
kognitif lama dan struktur kognitif yang masih akan diperoleh.Semoga Bermanfaat...
![]() |
| Eka Hendra |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar