Karakteristik Pembelajaran Konstruktivistik
Karakter Masa Depan yang Diharapkan
Upaya
membangun sumber daya manusia ditentukan oleh karakteristik manusia dan
masyarakat masa depan yang dikehendaki. Karakteristik manusia masa depan yang
dikehendaki tersebut adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan,
kemandirian, tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan,
mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar yang terus menerus
untuk menemukan diri sendiri dan menjadi diri sendiri yaitu suatu proses
… (to) learn to be. Mampu melakukan kolaborasi dalam
memecahkan masalah yang luas dan kompleks bagi kelestarian dan kejayaan
bangsanya (Raka Joni, 1990).
Kepekaan,
bearti ketajaman baik dalam arti kemampuan berpikirnya, maupun kemudah
tersentuhan hati nurani di dalam melihat dan merasakan segala sesuatu, mulai
dari kepentingan orang lain sampai dengan kelestarian lingkungan yang merupakan
gubahan Sang Pencipta. Kemandirian, berarti kemampuan menilai proses dan hasil
berfikir sendiri di samping proses dan hasil berfikir orang lain, serta
keberanian bertindak sesuai dengan apa yang dianggapnya benar dan perlu. Tanggung
jawab, berarti kesediaan untuk menerima segala konsekuensi keputusan serta
tindakan sendiri. Kolaborasi, bearti disamping mampu berbuat yang terbaik bagi
dirinya sendiri, individu dengan ciri-ciri diatas juga mampu bekerja sama
dengan individu lainnya dalam meningkatkan mutu kehidupan bersama.
Langkah
strategis bagi perwujudan tujuan diatas adalah adanya layanan ahli kependidikan
yang berhasil guna dan berdaya guna tinggi. Student active
learning atau pendekatan cara belajar siswa aktif didalam pengelolaan
kegiatan belajar mengajar yang mengakui sentralitas peranan siswa didalam
proses belajar, adalah landasan yang kokoh bagi terbentuknya manusia-manusia
masa depan yang diharapkan. Pilihan tersebut bertolak dari kajian-kajian
kritikal dan empirik disamping pilihan masyarakat (Raka Joni, 1990).
Penerapan
ajaran tut wuri handayani merupakan wujud nyata yang bermakna
bagi manusia masa kini dalam rangka menjemput masa depan. Untuk melaksanakannya
diperlukan penanganan yang memberikan perhatian terhadap aspek strategis
pendekatan yang tepat memusatkan perhatian pada terbentuknya manusia masa depan
yang memiliki karakteristik diatas. Kajian terhadap teori belajar
konstruktivistik dalam kegiatan belajar dan pembelajaran memungkinkan menuju
kepada tujuan tersebut.
Konstruksi
Pengetahuan
Untuk memperbaiki pendidikan terlebih dahulu harus
mengetahui bagaimana manusia belajar dan bagaimana cara mengajarnya. Kedua
kegiatan tersebut dalam rangka memahami cara manusia mengkonstruksi
pengetahuannya tentang objek-objek dan peristiwa-peristiwa yang dijumpai selama
kehidupannya. Manusia akan mencari dan menggunakan hal-hal atau peralatan yang
dapat membantu memahami pengalamannya. Demikian juga, manusia akan
mengkonstruksi dan membentuk pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan seseorang
merupakan konstruksi dari dirinya. Pada bagian ini akan dibahas teori belajar
konstruktivistik kaitannya dengan pemahaman tentang apa pengetahuan itu, proses
mengkonstruksi pengetahuan, serta hubungan antara pengetahuan, realitas, dan kebenaran.
Apa pengetahuan itu?
Menurut pendekatan konstruktivistik,
pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang
dipelajari, melainkan sebagai kunstruksi kognitif seseorang terhadap objek,
pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada
dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah
sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat
mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru.
Pengetahuan bukanlah suatu barang yang
dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang telah mempunyai pengetahuan
kepada pikiran orang lain yang belum memiliki pengetahuan tersebut. Bila guru
bermaksud untuk mentransfer konsep, ide, dan pengetahuannya tentang sesuatu
kepada siswa, pentransfer itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh
siswa sendiri melalui pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.
Proses mengkonstruksi
pengetahuan, Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan
menggunakan inderanya. Melalui interaksinya dengan objek dan lingkungannya,
misalnya dengan melihat, mendengar,menjamah, mambau, atau merasakan, seseorang
dapat mengetahui sesuatu. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan
melainkan sesuatu proses pembentukan. Semakin banyak seseorang berinteraksi
dengan objek dan lingkungannya, pengetahuan dan pemahamannya akan objek dan
lingkungan tersebut akan meningkat dan lebih rinci.
Von Galserfeld (dalam Paul, S., 1996) mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan
yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu;
1.
Kemampuan mengingat dan
mengungkapkan kembali pengalaman
2.
Kemampuan membandingkan
dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan
3.
Kemampuan untuk lebih
menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada lainnya.
Faktor-faktor yang juga mempengaruhi
proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan yang telah ada,
domain pengalaman, dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya. Proses dan
hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki seseorang akan menjadi
pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan fenomena yang
baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan pengetahuan.
Keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga akan membatasi
pengetahuannya akan hal tersebut. Pengetahuan yang telah dimiliki orang
tersebut akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dalam dirinya.
Perbandingan
Pembelajaran Tradisional dan Pembelajaran Konstruktivisme
Proses
pembelajaran akan efektif jika diketahui inti belajar yang sesungguhnya.Kegiatan
pembelajaran yang selama ini berlangsung, yang berpijak pada teori
behavioristik, banyak didominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi pelajaran
melalui ceramah, dengan harapan siswa dapat memahaminya dan memberikan respon
sesuai dengan materi yang diceramahkan. Dalam pembelajaran, guru banyak
menggantungkan pada buku teks. Materi yang disampaikan sesuai dengan urutan isi
buku teks. Diharapkan siswa memiliki pandangan yang sama dengan guru, atau sama
dengan buku teks tersebut. Alternatif-alternatif perbedaan interpretasi
diantara siswa terhadap fenomena ocial yang kompleks tidak dipertimbangkan.
Siswa belajar dalam isolasi, yang mempelajari kemampuan tingkat rendah dengan
cara melengkapi buku tugasnya setiap hari.
Ketika menjawab
pertanyaan siswa, guru tidak mencari kemungkinan cara pandang siswa dalam
menghadapi masalah, melainkan melihat apakah siswa tidak memahami sesuatu yang
dianggap benar oleh guru. Pengajaran didasarkan pada gagasan atau konsep-konsep
yang sudah dianggap pasti atau baku, dan siswa harus memahaminya.
Pengkonstruksian pengetahuan baru oleh siswa tidak dihargai sebagai kemampuan
penguasaan pengetahuan.
Berbeda dengan bentuk
pembelajaran diatas, pembelajaran konstruktivistik membantu siswa
menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru. Transformasi terjadi
dengan menghasilkan pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk struktur
kognitif baru. Pendekatan konstruktivistik lebih luas dan sukar untuk dipahami.
Pandangan ini tidak melihat pada apa yang dapat diungkapkan kembali atau apa
yang dapat diulang oleh siswa terhadap pelajaran yang telah diajarkan dengan
cara menjawab soal-soal tes (sebagai perilaku imitasi), melainkan pada apa yang
dapat dihasilkan siswa, didemonstrasikan, dan ditunjukkannya.
Semoga Bermanfaat...
![]() |
| Eka Hendra |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar