Timbul keprihatinan terhadap perubahan
kehidupan masyarakat dewasa ini dengan maraknya berbagai problem sosial seperti
ancaman disintegrasi yang disebabkan oleh fanatisme dan primordialisme, dan di
lain pihak adanya tuntutan pluralisme. Perubahan struktur dan lunturnya nilai-nilai
kekeluargaan, serta merebaknya kejahatan yang disebabkan oleh lemahnya social
capital (modal sosial) mendorong mereka yang bertanggung jawab di bidang
pendidikan untuk mengkaji ulang paradigma pendidikan dan pembelajaran yang
menjadi acuan selama ini. Tentu saja pendidikan bukan satu-satunya lembaga yang
harus bertanggung jawab untuk mengatasi semua masalah tersebut. Namun
pendidikan mempunyai kontribusi besar dalam upaya mengatasi berbagai persoalan
sosial.
Aliran behavioristik yang banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran selama ini kurang dapat menjawab masalah-masalah sosial. Pendekatan ini banyak dianut dalam praktik -praktik pendidikan dan pembelajaran mulai dari pendidikan tingkat yang paling dini hingga pendidikan tinggi, namun ternyata tidak mampu menjawab masalah-masalah dan tuntutan kehidupan global. Hasil pendidikan tidak mampu menumbuhkembangkan anak-anak untuk lebih menghargai perbedaan dalam konteks sosial budaya yang beragam. Mereka kurang mampu berprkir kreatif, kritis dan produktif, tidak mampu mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan berkolaborasi, serta pengelolaan diri.
Pendekatan kognitif dalam belajar dan pembelajaran yang ditokohi oleh Piaget yang kemudian berkembang ke dalam aliran konstruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya. Teori ini bila dicermati ada beberapa aspek yang dipandang dapat menimbulkan implikasi kotraproduktif dalam kegiatan pembelajaran, karena lebih mencerminkan ideologi individualisme dan gaya belajar sokratik yang lazim dikaitkan dengan budaya Barat. Pendekatan ini kurang sesuai dengan tuntutan revolusi¬sosiokultural yang berkembang akhir-akhir ini.
Aliran behavioristik yang banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran selama ini kurang dapat menjawab masalah-masalah sosial. Pendekatan ini banyak dianut dalam praktik -praktik pendidikan dan pembelajaran mulai dari pendidikan tingkat yang paling dini hingga pendidikan tinggi, namun ternyata tidak mampu menjawab masalah-masalah dan tuntutan kehidupan global. Hasil pendidikan tidak mampu menumbuhkembangkan anak-anak untuk lebih menghargai perbedaan dalam konteks sosial budaya yang beragam. Mereka kurang mampu berprkir kreatif, kritis dan produktif, tidak mampu mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan berkolaborasi, serta pengelolaan diri.
Pendekatan kognitif dalam belajar dan pembelajaran yang ditokohi oleh Piaget yang kemudian berkembang ke dalam aliran konstruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya. Teori ini bila dicermati ada beberapa aspek yang dipandang dapat menimbulkan implikasi kotraproduktif dalam kegiatan pembelajaran, karena lebih mencerminkan ideologi individualisme dan gaya belajar sokratik yang lazim dikaitkan dengan budaya Barat. Pendekatan ini kurang sesuai dengan tuntutan revolusi¬sosiokultural yang berkembang akhir-akhir ini.
Pandangan Lev Vygosky
Pandangan yang mampu mengakomodasi sociocultural-revolution dalam
teori belajar dan pembelajaran dikemukakan oleh Lev Vigotsky. Ia mengatakan
bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan
sejarahnya. Artinya, untuk memahami pikiran seseorang bukan dengan cara
menelusuri apa yang ada dibalik otaknya dan pada kedalaman jiwanya, melainkan
dari asal-usul tindakan sadarnya, dari interaksi sosial yang dilatari sejarah
hidupnya (Moll & Greenberg, 1990). Peningkatan fungsi-fungsi mental
seseorang berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, dan bukan dari
individu itu sendiri. Interaksi sosial demikian antara lain berkaitan erat
dengan aktifitas-aktifitas dan bahasa yang dipergunakan. Kunci utama untuk
memahami proses-proses sosial dan psikologis manusia adalah tanda-tanda atau
lambang yang berfungsi sebagai mediator (Wertsch, 1990). Tanda-tanda atau
lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosial-kultural di mana
seseorang berada.
Mekanisme teori yang digunakannya untuk menspesifikasi hubungan
antara pendekatan sosio-kultural dan pemfungsian mental didasarkan pada tema
mediasi semiotik, yang artinya adalah tanda-tanda atau lambang-lambang beserta
makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penengah antara
rasionalitas dalam pendekatan sosiokultural dan manusia sebagai tempat
berlangsungnya proses mental (Moll, 1994).
Atas dasar pemikiran Vygotsky, Moll dan Greenberg (dalam Moll, 1994)
melakukan studi etnografi dan menemukan adanya jaringan-jaringan erat, luas,
dan kompleks di dalam dan di antara keluarga-keluarga. Jaringan-jaringan
tersebut berkembang atas dasar confianza yang membentuk kondisi sosial sebagai
tempat penyebaran dan pertukaran pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai
sosial budaya. Anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan dan ketrampilan
melalui interaksi sosial sehari-hari. Mereka terlibat secara aktif dalam
interaksi sosial dalam keluarga untuk memperoleh dan juga menyebarkan
pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki. Ada suatu kerja sama di antara
anggota keluarga dalam interaksi tersebut.
Menurut Vygotsky, Perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif
seseorang sesuai dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat
primer, sedangkan dimensi idividualnya bersifat bersifat derivatif atau
merupakan turunan dan bersifat sekunder (Palincsar, Wertsch & Tulviste,
dalam supratiknya, 2002). Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif
individu berasal dari sumber-sumber sosial diluar dirinya. Hal ini tidak
berarti bahwa individu bersifat pasif dalam berkembangan kognitifnya, tetapi
Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi
pengetahuannya. Maka teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan
pendekatan kokonstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang
disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan yang
aktif pula.
Konsep-konsep penting teori sosiogenesis Vygotsky tentang
perkembangan kognitif yang sesuai dengan revolusi-sosiokultural dalam teori
belajar dan pembelajaran adalah hukum genetik tentang perkembangan (genetic law
of defelopment), zona perkembangan proksimal (zone of proximal development),
dan mediasi.
Hukum genetik tentang
perkembangan (genetic law of development)
Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan
berkembang melewati dua tataran, yaitu tataran sosial tempat orang-orang
membentuk lingkungan sosialnya (dapat dikategorikan sebagai interpsikologis
atau intermental), dan tataran psikologis di dalam diri orang yang bersangkutan
(dapat dikategorikan sebagai intrapsikologis atau intramental). Pandangan teori
ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan
konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif
seseorang dikatakannya bahwa fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi dalam diri
seseorang akan muncul dan berasal dari kehidupan sosialnya. Sementara itu
fungsi intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau
terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial
tersebut.
Pada mulanya anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial tertentu
tanpa memahami maknanya. Pemaknaan atau kontruksi pengetahuan baru muncul atau
terjadi melalui proses internalisasi. Namun internalisasi yang dimaksud oleh
Vygotsky bersifat transformatif, yaitu mampu memunculkan perubahan dan
perkembangan yang tidak sekedar berupa transfer atau pengalihan. Maka belajar
dan perkembangan merupakan satu kesatuan dan saling menentukan.
Zona perkembangan
proksimal (zone of proximal development)
Vygotsky juga mengemukakan konsepnya tentang zona
perkembangan proksimal (zone of proximal development). Menurutnya, perkembangan
kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat
perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan
aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau
memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Ini disebut sebagai kemampuan
intramental. Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan
seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika dibawah
bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih
kompeten. Ini disebut sebagai kemampuan intermental. Jarak antara keduanya,
yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini
disebut zona perkembangan proksimal.
Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai
fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada
dalam proses pematangan. Ibaratnya sebagai embrio, kuncup atau bunga,yang belum
menjadi buah. Tunas-tunas perkembangan ini akan menjadi matang melalui
interaksinya dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih
kompeten. Untuk menafsirkan konsep zona perkembangan proksimal ini dengan
menggunakan scaffoding interpretation, yaitu memandang zona perkembangan proksimal
sebagai perancah, sejenis wilayah penyangga atau batu loncatan untuk mencapai
taraf perkembangan yang semakin tinggi.
Gagasan Vygotsky tentang perkembangan proksimal ini
mendasari perkembangan teori belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan
kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Beberapa konsep kunci
yang perlu dicatat adalah bahwa perkembangan dan belajar bersifat interdependen
atau saling terkait, perkembangan kemampuan seseorang bersifat context
dependent atau tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, dan sebagai bantuk
fundamentaldalam belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial.
Berpijak pada konsep zona perkembangan proksimal,
maka sebelum terjadi internalisasi dalam diri anak, atau sebelum kemampuan
intramental terbentuk, anak perlu dibantu dalam proses belajarnya. Orang dewasa
dan atau teman sebaya yang lebih kompeten perlu membantu dengan berbagai cara
seperti memberikan contoh, memberikan feedback, menarik kesimpulan, dan
sebagainya dalam rangka perkembangan kemampuannya.
Mediasi
Menurut Vygotsky, kunci utama untuk memahami
proses-proses sosial dan psikologis adalah tanda-tanda atau lambang-lambang
tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural di mana seseorang
berada. Semua perbuatan atau proses psikologis yang khas manusiawi dimediasikan
dengan psychologis tools atau alat-alat psikologis berupa bahasa, tanda dan
lambang, atau semiotika.
Dalam kegiatan pembelajaran, anak dibimbing oleh
orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten untuk memahami alat-alat semiotik
ini. Anak mengalami proses internalisasi yang selanjutnya alat-alat ini
berfungsi sebagai mediator bagi proses-proses psikologis lebih lanjut dalam
diri anak. Mekanisme hubungan antara pendekatan sosiokultural dan fungsi-fungsi
mental didasari oleh tema mediasi semiotik, artinya tanda-tanda atau
lambang-lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai
penghubung antara rasionalitas sosio-kultural (intermental) dengan individu
sebagai tempat berlangsungnya proses mental (intramental)(Wertsch dalam
Budiningsih, 2005). Ada beberapa elemen yang memperluas pendapat Vygotsky.
Elemen-elemen tersebut terdiri dari ucapan, bunyi suara, tipe percakapan sosial
dan dialog, dimana secara kontekstual elemen-elemen tersebut berada dalam
batasan sejarah, kelembagaan, budaya dan faktor-faktor individu.
Ada dua jenis mediasi, yaitu mediasi metakognitif
dan mediasi kognitif (Supratignya, 2002). Pengertian mediasi metakognitif
adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk melakukan self- regulation
yang meliputi: self planning, self planning, self checking, dan self
evaluating. Mediasi metakognitif ini berkembang dalam komunikasi antar pribadi.
Selama menjalani kegiatan bersama orang dewasa atau teman sebaya yang lebih
kompeten biasa menggunakan alat-alat semiotik tertentu untuk membantu mengatur
tingkah laku anak. Selanjutnya anak akan menginternalisasikan alat semiotik ini
untuk dijadikan sebagai alat regulasi diri.
Mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat
kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu
atau subject-domain problem. Mediasi kognitif bisa berkaitan dengan konsep
spontan dan konsep ilmiah yang berhasil diinternalisasikan anak akan berfungsi
sebagai mediator dalam pemecahan masalah. Konsep-konsep ilmiah ini dapat
berbentuk pengetahuan deklaratif (declarative knowlegde) berupa metode atau
strategi untuk memecahkan masalah. Menurut Vygotsky untuk membantu anak
memadukan antara konsep-konsep dan prosedur melalui demonstrasi dan praktek.
Berdasarkan teori
Vygotsky akan diperoleh beberapa keuntungan:
1.
Anak memperoleh
kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona
perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang;
2.
Pembelajaran perlu
lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya daripada tingkat
perkembangan aktualnya;
3.
Pembelajaran lebih
diarahkan pada penggnaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya
daripada kemampuan intramental
4.
Anak diberi kesempatan
yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah
dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang dapat dilakukan untuk
tugas-tugas atau pemecahan masalah
5.
Proses belajar dan
pembelajaran tidak bersifat transferal tetapi lebih merupakan kokonstruksi,
yaitu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makana baru secara bersama-sama
antara semua pihak yang terlibat di dalamnya.
Semoga Bermanfaat...
![]() |
| Eka Hendra |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar