Perkembangan Intelektual
Jean Piagnet
Jean piaget adalah orang ahli biologi dan
psikologi konstrubusi besar dalam pemahaman terhadap perkembangan intelek anak.
Dalam rangka memahami proses dan tingkat perkembangan intelektual anak ini
piaget telah melakukan observasi bertahun-tahun sejak tahun 1920-an terhadap
perkembangan intelektual yang terjadi pada anank-anak lain dan para remaja
melalui berbagai pemberian tugas intelektual, kemudian mencatat jawaban-jawaban
yang diperolehnya. Melalui penelitian yang eksistensif akhirnya secara detal
piaget dapat menggambarkan teori proses perkembangan intelektuan yang terjadi
pada anak mulai dari bayi sampai remaja.
Teori piaget ini telah membantu ahli pendidikan
unruk memahami bagaimana tingkah laku seorang anak harus dikembangkan dan di
tingkatkan. Dalam teorinya ini piaget menjelaskan pemahamannya tentang
pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu terbentuk (terjadi).
Ø Proses perkembangan
intelektual
Proses belajar berhubungan dengan proses perkembangan intelektual.
Menurut jean piaget ada tiga tahap proses perkembangan intelektual, yaitu :
1.
Asimilasi
Asimilasi adalah proses perpaduan antara
informasi baru dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki. Dalam proses ini
seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah dimilikinya untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam lingkungannya. Pesyaratnya penting
untuk terjadinya asimilasi ialah strukrur internal yang menggunakan informasi
baru. Namun, seseorang sering tidak memadukan informasi baru kedalam struktur
kognitifnya karena ia tidak memiliki struktur asimilasi yang cocok.
2.
Akomondasi
Akomondasi adalah penyesuaian struktur internal
dengan cirri-ciri tertentu dari situasi khusus yang berupa objek atau kejadian
baru. Dalam proses akomondasi ini seseorang memerlukan modifikasi struktur
internal yang ada dalam menghadpi reaksi terhadap tantangan lingkungan.
Asimilasi dan akomondasi berfungsi bersama-sama dalam menghadapi lingkungan
(beradaptasi) pada semua tingkat fungsii intelek. Misalnya, bayi sudah tahu
bahwa ia dapat menggenggam, ia dapat meggenggam setiap benda yang dilihatnya.
Namun, bila benda itu besar, diperlukan akomondasi (penyesuaian) untuk dapat
menggenggam benda tersebut, misalnya dengan menggunakan kedua tangannya. Begitu
sebaliknya, bila ia menggenggam benda yang lebih kecil.
3.
Ekuilibrasi
Ekuilibrasi adalah pengaturan diri yang
berkesinambungan yang memungkinkan seseorang tumbuh, berkembang, dan berubah
sementara untuk menjadi lebih mantap/seimbang. Ekuilibrasi bukan keseimbangan
dalam hal kekuatan melainkan merupakan proses yang dinamis yang secara
terus-menerus mengatur tingkah laku. Proses ekuilibrasi ini disebut juga proses
penyeimbangan antara “dunia luar”. Tanpa proses ini perkembangan intelektual
seseorang akan ttersendat-sendat (terganggu), berlagsungan secara tidak
seimbang.
Ekuilibrasi proses berfikir seseorang terjadi
pada bagian fungsi kongnitif yang berbeda, yaitu : (1) hubungan antara
asimilasi, akomondasi dalam perjumpaan seseorang dalam kehidupan sehari-hari,
(2) sub-subsistem pengetahuan yang timbul pada diri seseorang, (3) bagian-bagian
dari pengetahuan dan system pengetahuan total seseorang.
Tahap-Tahap
Perkembangan Kognitif
Menurut Jian Piaget, perkembangan kognitif
(kecerdasan) anak di bagi menjadi empat tahap yaitu:
1. Tahap
sensori-motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2
bulan. Pada tahap ini anak mengatur sensorinya (inderanya) dan
tindakan-tindakannya. Pada awal periode ini anak tidak mempuntai konsepsi
tentang objek-objek secara permanen. Artinya anak belum dapat mengenal dan
menemukan objek, benda apapun yang tidak lihat, tidak disentuh atau tidak
didengar. Benda-benda tersebut dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya ada di
tempat lain. Dalam usia 18-24 bulan barulah kemampuan anak untuk mengenal objek
secara permanen mulai muncul secara betahap dan sistematis.
2. Tahap
peropersional, yakni perkembangan
ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun . perkambangan ini bermula pada
saat anak telah memahami objek-objek secara sempurna. Artinya, anak sudah
mempunyai kesadaran akan eksistensi suatu benda yang ada atau biasa ada
walaupun benda tersebut sudah tidak di lihat atau tidak di dengarnya lagi.
3. Tahap
konkrit operasional, yaitu peerkembangan kognitif yang terjadi pada usia 7-11
tahun. Dalam tahap ini anak sudah mulai
melakukan operasi, mulai dapat berfikir rasional. Namun demikian, kemampuan
berfikir intuitifnya seperti pada masa praoperasional tidak hilang sampai anak
memasuki masa remaja. Pada periode ini seorang anak mulai memperoleh tambahan
kemampuan yang di sebut satuan langka berfikir (system of operations) yang
berfungsi untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa
tertentu kedalam system pemikirannya sendiri sehingga dia mampu mengambil
keputusan secara logis.
4. Tahap
formal operasi, yaitu perkembangan kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Tahap formal operasi ini dapat di katakana terjadi pada anak yang
mulai beranjak remaja. Pada tahap ini
anak dapat menggunakan operasi konkretnya untuk membentuk operasi yang lebih
kompleks. Dalam hal ini anak telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan secara
simultan ataupun secara berurutan dalam penggunaan kapasitas /kemampuan
kognitifnya. Yaitu kapasitas yang mengguakan hipotesis dan prinsip-prinsip
abstrak.
Dengan memahami tahap-tahap perkembangan intelektual
anak beserta karakteristiknya seperti di uraikan di muka, dihrapkan guru atau
orang tua dapat membantu siswa atau anaknya untuk memprediksi apa yang dapat di
lakukan untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan perkembangan
intelektual anak.
Aplikasi teori kognitif
dalam kegiatan pembelajaran
Hakekat belajar
belajar menurut kognotif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan
penataan informasi,reorganisasi perceptual,dan proses internal.
Kegiatan
pembelajaran mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Siswa
bukan sebagai orang dewasa yang mudah
dalam proses berpikir. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui
tahap-tahap tertentu.
2. Anak
usia para sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar deengan baik,
terutama jika menggunakan benda kongrit.
3. Keterrlibatan
siswa secara aktif dalam dalam belajar amat dipertimbangkan, karena hanya
dengan mengaktifkan siswa maka proses
asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalam dapat terjadi dengan baik.
4. Untuk
menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkaan pengalam
ataau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki si belajar.
5. Pemahaman
dan retensi akan meningkatkan jika mmateri pelajaran disusun dengan menggunakan
pola atau logika tertentu dari sederhana komplet.
6. Belajar
memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal.
7. Adanya
perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan.
Menurut
piaget , hanya dengan mengaktifkan siswa secara optimal maka proses asimilasi
dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Sementara
itu, bruner lebi banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri
melalui aktivitas menemukan (discovery). Cara demikian akan mengarahkan siswa
pada bentuk belajar induktif, yang menentukan banyak dilakukan pengulangan.
Langka-langka
pembelajaran yang dikemukakan oleh suciati dan prasetya irawan (2001) dapat
digunakan. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut :
·
Langkah-langkah
pembelajaran menurut piaget :
1. Menentukan
tujuan pembelajaran.
2. Memilih
materi pembelajaran.
3. Menentukan
topik-topik yang akan dipelajari siswa secara aktif
4. Menentuka
kegiatan belajar yang sesuai untuk topik-topik tersebut.
5. Mengembangkan
metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara berfikir siswa.
6. Melakukan
penilaian proses dan hasil belajar siswa
·
Langkah-langkah
pembelajaran menurut bruner :
1. Menentukan
yujuan pembelajaran.
2. Melakukan
indentifitas karakteristik ssiswa (kemampuan awal,minat,gaya belajar)
3. Memilih
materi pelajaran.
4. Menentukan
topik–topik yang dapat dipelajari siswa secara indukatif.
5. Mengembangkan
bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya
untuk dipelajari siswa.
6. Mengatur
topik–topik pelajaran dari yang sederhana
ke komplet, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif,ikonik,
sampai simbolik.
7. Melakukan
penilaian proses dan hasil belajar siswa.
·
Langkah-langkah
pembelajaran menurut ausubel :
1. Menentukan
tujuan pembelajaran.
2. Melakukan
indentifitas karakteristik siswa ( kemampuan awal, motivasi,gaya belajar)
3. Memilih
materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengatur dalam bentuk
konsep-konsep inti.
4. Menentukan
topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan
dipelajari siswa.
5. Mempelajari
konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret.
Melakukan penilaian proses dan hasil belajar
siswaSemoga Bermanfaat...
![]() |
| Eka Hendra |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar