Sabtu, 10 Januari 2015

Petemuan Keenam




Perkembangan Intelektual Jean Piagnet
Jean piaget adalah orang ahli biologi dan psikologi konstrubusi besar dalam pemahaman terhadap perkembangan intelek anak. Dalam rangka memahami proses dan tingkat perkembangan intelektual anak ini piaget telah melakukan observasi bertahun-tahun sejak tahun 1920-an terhadap perkembangan intelektual yang terjadi pada anank-anak lain dan para remaja melalui berbagai pemberian tugas intelektual, kemudian mencatat jawaban-jawaban yang diperolehnya. Melalui penelitian yang eksistensif akhirnya secara detal piaget dapat menggambarkan teori proses perkembangan intelektuan yang terjadi pada anak mulai dari bayi sampai remaja.
Teori piaget ini telah membantu ahli pendidikan unruk memahami bagaimana tingkah laku seorang anak harus dikembangkan dan di tingkatkan. Dalam teorinya ini piaget menjelaskan pemahamannya tentang pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu terbentuk (terjadi).
Ø  Proses perkembangan intelektual
Proses belajar berhubungan dengan proses perkembangan intelektual. Menurut jean piaget ada tiga tahap proses perkembangan intelektual, yaitu :
1.      Asimilasi
Asimilasi adalah proses perpaduan antara informasi baru dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki. Dalam proses ini seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah dimilikinya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam lingkungannya. Pesyaratnya penting untuk terjadinya asimilasi ialah strukrur internal yang menggunakan informasi baru. Namun, seseorang sering tidak memadukan informasi baru kedalam struktur kognitifnya karena ia tidak memiliki struktur asimilasi yang cocok.

2.      Akomondasi
Akomondasi adalah penyesuaian struktur internal dengan cirri-ciri tertentu dari situasi khusus yang berupa objek atau kejadian baru. Dalam proses akomondasi ini seseorang memerlukan modifikasi struktur internal yang ada dalam menghadpi reaksi terhadap tantangan lingkungan. Asimilasi dan akomondasi berfungsi bersama-sama dalam menghadapi lingkungan (beradaptasi) pada semua tingkat fungsii intelek. Misalnya, bayi sudah tahu bahwa ia dapat menggenggam, ia dapat meggenggam setiap benda yang dilihatnya. Namun, bila benda itu besar, diperlukan akomondasi (penyesuaian) untuk dapat menggenggam benda tersebut, misalnya dengan menggunakan kedua tangannya. Begitu sebaliknya, bila ia menggenggam benda yang lebih kecil.
3.      Ekuilibrasi
Ekuilibrasi adalah pengaturan diri yang berkesinambungan yang memungkinkan seseorang tumbuh, berkembang, dan berubah sementara untuk menjadi lebih mantap/seimbang. Ekuilibrasi bukan keseimbangan dalam hal kekuatan melainkan merupakan proses yang dinamis yang secara terus-menerus mengatur tingkah laku. Proses ekuilibrasi ini disebut juga proses penyeimbangan antara “dunia luar”. Tanpa proses ini perkembangan intelektual seseorang akan ttersendat-sendat (terganggu), berlagsungan secara tidak seimbang.
Ekuilibrasi proses berfikir seseorang terjadi pada bagian fungsi kongnitif yang berbeda, yaitu : (1) hubungan antara asimilasi, akomondasi dalam perjumpaan seseorang dalam kehidupan sehari-hari, (2) sub-subsistem pengetahuan yang timbul pada diri seseorang, (3) bagian-bagian dari pengetahuan dan system pengetahuan total seseorang.
Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif
Menurut Jian Piaget, perkembangan kognitif (kecerdasan) anak di bagi menjadi empat tahap yaitu:
1.      Tahap sensori-motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 bulan. Pada tahap ini anak mengatur sensorinya (inderanya) dan tindakan-tindakannya. Pada awal periode ini anak tidak mempuntai konsepsi tentang objek-objek secara permanen. Artinya anak belum dapat mengenal dan menemukan objek, benda apapun yang tidak lihat, tidak disentuh atau tidak didengar. Benda-benda tersebut dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya ada di tempat lain. Dalam usia 18-24 bulan barulah kemampuan anak untuk mengenal objek secara permanen mulai muncul secara betahap dan sistematis.
2.      Tahap peropersional, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun . perkambangan ini bermula pada saat anak telah memahami objek-objek secara sempurna. Artinya, anak sudah mempunyai kesadaran akan eksistensi suatu benda yang ada atau biasa ada walaupun benda tersebut sudah tidak di lihat atau tidak di dengarnya lagi.
3.      Tahap konkrit operasional, yaitu peerkembangan kognitif yang terjadi pada usia 7-11 tahun.  Dalam tahap ini anak sudah mulai melakukan operasi, mulai dapat berfikir rasional. Namun demikian, kemampuan berfikir intuitifnya seperti pada masa praoperasional tidak hilang sampai anak memasuki masa remaja. Pada periode ini seorang anak mulai memperoleh tambahan kemampuan yang di sebut satuan langka berfikir (system of operations) yang berfungsi untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu kedalam system pemikirannya sendiri sehingga dia mampu mengambil keputusan secara logis.
4.      Tahap formal operasi, yaitu perkembangan kognitif yang terjadi pada  usia 11-15 tahun. Tahap formal operasi  ini dapat di katakana terjadi pada anak yang mulai  beranjak remaja. Pada tahap ini anak dapat menggunakan operasi konkretnya untuk membentuk operasi yang lebih kompleks. Dalam hal ini anak telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan secara simultan ataupun secara berurutan dalam penggunaan kapasitas /kemampuan kognitifnya. Yaitu kapasitas yang mengguakan hipotesis dan prinsip-prinsip abstrak.
Dengan memahami tahap-tahap perkembangan intelektual anak beserta karakteristiknya seperti di uraikan di muka, dihrapkan guru atau orang tua dapat membantu siswa atau anaknya untuk memprediksi apa yang dapat di lakukan untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan perkembangan intelektual anak.
Aplikasi teori kognitif dalam kegiatan pembelajaran
Hakekat belajar  belajar menurut kognotif dijelaskan sebagai  suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi,reorganisasi perceptual,dan proses internal.
Kegiatan pembelajaran mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut :
1.      Siswa bukan sebagai orang  dewasa yang mudah dalam proses berpikir. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
2.      Anak usia para sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar deengan baik, terutama jika menggunakan benda kongrit.
3.      Keterrlibatan siswa secara aktif dalam dalam belajar amat dipertimbangkan, karena hanya dengan mengaktifkan siswa  maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalam dapat terjadi dengan baik.
4.      Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkaan pengalam ataau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki si belajar.
5.      Pemahaman dan retensi akan meningkatkan jika mmateri pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana komplet.
6.      Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal.
7.      Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan.
Menurut piaget , hanya dengan mengaktifkan siswa secara optimal maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Sementara itu, bruner lebi banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri melalui aktivitas menemukan (discovery). Cara demikian akan mengarahkan siswa pada bentuk belajar induktif, yang menentukan banyak dilakukan pengulangan.
Langka-langka pembelajaran yang dikemukakan oleh suciati dan prasetya irawan (2001) dapat digunakan. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut :
·      Langkah-langkah pembelajaran menurut piaget  :
1.      Menentukan tujuan pembelajaran.
2.      Memilih materi pembelajaran.
3.      Menentukan topik-topik yang akan dipelajari siswa secara aktif
4.      Menentuka kegiatan belajar yang sesuai untuk topik-topik tersebut.
5.      Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara berfikir siswa.
6.      Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa

·      Langkah-langkah pembelajaran menurut bruner :
1.      Menentukan yujuan pembelajaran.
2.      Melakukan indentifitas karakteristik ssiswa (kemampuan awal,minat,gaya belajar)
3.      Memilih materi pelajaran.
4.      Menentukan topik–topik yang dapat dipelajari siswa secara indukatif.
5.      Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
6.      Mengatur topik–topik pelajaran dari yang sederhana  ke komplet, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif,ikonik, sampai simbolik.
7.      Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

·     Langkah-langkah pembelajaran menurut  ausubel :
1.      Menentukan tujuan pembelajaran.
2.      Melakukan indentifitas karakteristik siswa ( kemampuan awal, motivasi,gaya belajar)
3.      Memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengatur dalam bentuk konsep-konsep inti.
4.      Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari siswa.
5.      Mempelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret.
Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa

Semoga Bermanfaat...

Eka Hendra
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar