Sabtu, 10 Januari 2015

Pertemuan kesembilan

 
Pandangan Honey Dan Mumford Terhadap Pembelajaran
Pandangan tentang belajar Honey dan Mumford banyak dipengaruhi oleh Kolb. Mereka kemudian menggolong-golongkan orang belajar menjadi empat macam golongan yaitu:
l). Kelompok Aktivis
Orang-orang yang tergolong dalam kelompok aktivis adalah mereka yang senang melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Orang-orang tipe ini mudah untuk diajak berdialog, memiliki pemikiran terbuka, menghargai pendapat orang lain dan mudah percaya. Namun dalam melakukan tindakan sering kali kurang mempertimbangkan secara matang dan lebih banyak didorong oleh kesenangannya untuk melibatkan diri. Dalam kegiatan belajar, orang-orang demikian senang pada hal-hal yang sifatnya penemuan-penemuan baru, seperti pemikiran baru, pengalaman baru. Namun mereka cepat bosan dengan kegiatan-kegiatan yang implementasinya memakan waktu lama.
Karakteristik :
1.      Mudah diajak berdialog
2.      Mempunyai pikiran yang terbuka
3.      Menghargai pendapat orang lain
4.      Mudah percaya pada orang lain
5.      Kurang pertimbangan yang matang dalam melangkah.
2). Kelompok Reflector
Dalam melakukan tindakan, orang-orang tipe reflector sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan. Pertimbangan baik-buruk, untung-rugi, selalu diperhitungkan dengan cermat dalam memutuskan sesuatu. Orang-orang demikian tidak mudah dipengaruhi, sehingga cenderung bersifat konservatif.
Karakteristik :
1.      Tidak mudah dipengruhi orang lain
2.      Cenderung bersifat konservatif
3) Kelompok Teoris
Orang-orang tipe theorist memiliki kecenderungan yang sangat kritis. Mereka suka menganalisis, berpikir rasional dengan menggunakan penalarannya. Segala sesuatu dikembalikan kepada teori dan konsep-konsep atau hukum-hukum. Mereka tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif. Dalam melakukan memutuskan sesuatu kelompok teoris penuh dengan pertimbangan, sangat skeptif dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.
Karakteristik:
1.      Sangat kritis
2.      Suka menganalisis
3.      Selalu berpikir rasional dengan rnenggunakan penalaran
4.      Tidak menyukai pendapat / penilaian yang subyektif
5.      Tidak menyukai hal-hal yang spekulatif
6.      Mempunyai pendirian yang kuat
7.      Tidak mudah dipengaruhi orang lain
4) Kelompok Pragmatis
Orang-orang tipe pragmatis memiliki sifat-sifat yang praktis. Mereka tidak suka berpanjang lebar dengan teori-teori, konsep-konsep, dalil-dalil dan sebagainya. Bagi mereka yang penting adalah aspek-aspek praktis. Sesuatu hanya bermanfaat jika dipraktikkan. Bagi mereka, sesuatu adalah baik dan berguna jika dapat dipraktekkan dan bermanfaat dalam kehidupan.


Karakteristik:
1.      Praktis, tidak suka bertele-tele dengan suatu teori/konsep
2.      Sesuatu berguna apabila dapat dipraktekan  bagi kehidupan manusia
Pandangan Bloom dan Karthwool Terhadap Pembelajaran
Tujuan belajar yang dikemukakannya dirangkum ke dalam tiga kawasan yang dikenal dengan Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom ini telah membantu para pendidik dan guru untuk merumuskan tujuan-tujuan belajar yang akan dicapai dengan rumusan yang mudah dipahami. Setidaknya di Indonesia, Taksonomi Bloom ini banyak dikenal dan paling popular di lingkungan pendidikan. Secara ringkas ketiga kawasan dalam Taksonomi Bloom adalah sebagai berikut:
a.      Kognitif
Kognitif terdiri dari enam tingkatan, yakni :
1.      Pengetahuan ( mengingat, menghafal)
2.      Pemahaman ( menginterpresfasikan )
3.      Aplikasi ( menggunakan konsep untuk memecahkan masalah )
4.      Analisis ( menjabarkan suatu konsep )
5.      Sintesis ( meaggabungkan bagian-bagran konsep menjadi sebuah konsep yang utuh )
b.      Psikomotor
Pada kawasan ini terdiri dari lima tingkatan, yakni :
1.    Peniruan ( menirukan gerak )
2.    Penggrmaan ( menggunakan konsep untuk melakukan gerak )
3.    Ketepatan ( melakukan gerak dengan benar )
4.    Perangkaian ( melakukan beberapa gerakaa sekaligus dengan benar )
5.    Naturalisasi ( melakukan gerak secara wajar )



  1. Afektif
Pada kawasan ini terdiri dari 5 tingkatan, yakni :
1.      Pengenalan ( ingin menerima sadar akan adarryasesuatu )
2.      Merespon ( aktifberpartisipasi )
3.      Penghargaan ( menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu )
4.      Pengorganisasian ( menghubungkan nilai yang dipercayainya )
5.      Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidupan)
Aplikasi Teori Belajar Humanistik Dalam Pembelajaran dan Pengajaran
Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas si fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes (petunjuk), diantaranya:
1.      Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal,    situasi kelompok, atau pengalaman kelas.
2.      Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.      Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar.
4.      Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapaitujuan mereka.
5.      Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.      Di dalam menggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas dan menerima baik isi yang bersifat pikiran dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok.
7.      Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pandangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.


Semoga Bermanfaat
 
Eka Hendra
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar