Pandangan Honey
Dan Mumford Terhadap Pembelajaran
Pandangan
tentang belajar Honey dan Mumford banyak dipengaruhi oleh Kolb. Mereka kemudian
menggolong-golongkan orang belajar menjadi empat macam golongan yaitu:
l). Kelompok Aktivis
Orang-orang yang tergolong dalam kelompok aktivis adalah mereka yang senang
melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan
untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Orang-orang tipe ini mudah untuk
diajak berdialog, memiliki pemikiran terbuka, menghargai pendapat orang lain
dan mudah percaya. Namun dalam melakukan tindakan sering kali kurang
mempertimbangkan secara matang dan lebih banyak didorong oleh kesenangannya
untuk melibatkan diri. Dalam kegiatan belajar, orang-orang demikian senang pada
hal-hal yang sifatnya penemuan-penemuan baru, seperti pemikiran baru,
pengalaman baru. Namun mereka cepat bosan dengan kegiatan-kegiatan yang
implementasinya memakan waktu lama.
Karakteristik
:
1.
Mudah diajak berdialog
2.
Mempunyai pikiran yang
terbuka
3.
Menghargai pendapat
orang lain
4.
Mudah percaya pada
orang lain
5.
Kurang pertimbangan
yang matang dalam melangkah.
2). Kelompok Reflector
Dalam melakukan
tindakan, orang-orang tipe reflector sangat berhati-hati dan
penuh pertimbangan. Pertimbangan baik-buruk, untung-rugi, selalu diperhitungkan
dengan cermat dalam memutuskan sesuatu. Orang-orang demikian tidak mudah
dipengaruhi, sehingga cenderung bersifat konservatif.
Karakteristik
:
1.
Tidak mudah dipengruhi
orang lain
2.
Cenderung bersifat konservatif
3) Kelompok Teoris
Orang-orang tipe theorist memiliki
kecenderungan yang sangat kritis. Mereka suka menganalisis, berpikir rasional
dengan menggunakan penalarannya. Segala sesuatu dikembalikan kepada teori dan
konsep-konsep atau hukum-hukum. Mereka tidak menyukai pendapat atau penilaian
yang sifatnya subjektif. Dalam melakukan memutuskan sesuatu kelompok teoris
penuh dengan pertimbangan, sangat skeptif dan tidak menyukai hal-hal yang
bersifat spekulatif.
Karakteristik:
1.
Sangat kritis
2.
Suka menganalisis
3.
Selalu berpikir
rasional dengan rnenggunakan penalaran
4.
Tidak menyukai pendapat
/ penilaian yang subyektif
5.
Tidak menyukai hal-hal
yang spekulatif
6.
Mempunyai pendirian
yang kuat
7.
Tidak mudah dipengaruhi
orang lain
4) Kelompok Pragmatis
Orang-orang tipe pragmatis
memiliki sifat-sifat yang praktis. Mereka tidak suka berpanjang lebar dengan
teori-teori, konsep-konsep, dalil-dalil dan sebagainya. Bagi mereka yang
penting adalah aspek-aspek praktis. Sesuatu hanya bermanfaat jika dipraktikkan.
Bagi mereka, sesuatu adalah baik dan berguna jika dapat dipraktekkan dan
bermanfaat dalam kehidupan.
Karakteristik:
1.
Praktis, tidak suka
bertele-tele dengan suatu teori/konsep
2.
Sesuatu berguna apabila
dapat dipraktekan bagi kehidupan manusia
Pandangan Bloom
dan Karthwool Terhadap Pembelajaran
Tujuan belajar yang
dikemukakannya dirangkum ke dalam tiga kawasan yang dikenal dengan Taksonomi
Bloom. Taksonomi Bloom ini telah membantu para pendidik dan guru untuk
merumuskan tujuan-tujuan belajar yang akan dicapai dengan rumusan yang mudah
dipahami. Setidaknya di Indonesia, Taksonomi Bloom ini banyak dikenal dan
paling popular di lingkungan pendidikan. Secara ringkas ketiga kawasan dalam
Taksonomi Bloom adalah sebagai berikut:
a.
Kognitif
Kognitif
terdiri dari enam tingkatan, yakni :
1. Pengetahuan
( mengingat, menghafal)
2. Pemahaman
( menginterpresfasikan )
3. Aplikasi
( menggunakan konsep untuk memecahkan masalah )
4. Analisis
( menjabarkan suatu konsep )
5. Sintesis
( meaggabungkan bagian-bagran konsep menjadi sebuah konsep yang utuh )
b.
Psikomotor
Pada kawasan ini terdiri
dari lima tingkatan, yakni :
1.
Peniruan ( menirukan
gerak )
2.
Penggrmaan ( menggunakan
konsep untuk melakukan gerak )
3.
Ketepatan ( melakukan
gerak dengan benar )
4.
Perangkaian ( melakukan
beberapa gerakaa sekaligus dengan benar )
5.
Naturalisasi (
melakukan gerak secara wajar )
- Afektif
Pada kawasan ini
terdiri dari 5 tingkatan, yakni :
1. Pengenalan
( ingin menerima sadar akan adarryasesuatu )
2. Merespon
( aktifberpartisipasi )
3. Penghargaan
( menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu )
4. Pengorganisasian
( menghubungkan nilai yang dipercayainya )
5. Pengamalan
(menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidupan)
Aplikasi Teori Belajar Humanistik Dalam Pembelajaran dan Pengajaran
Berikut
ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas
si fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa
guidenes (petunjuk), diantaranya:
1. Fasilitator
sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi
kelompok, atau pengalaman kelas.
2. Fasilitator
membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam
kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3. Dia
mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan
tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang
tersembunyi di dalam belajar.
4. Dia
mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas
dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapaitujuan mereka.
5. Dia
menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat
dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Di
dalam menggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas dan menerima baik isi
yang bersifat pikiran dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi
dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok.
7. Bilamana
cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur dapat
berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota
kelompok, dan turut menyatakan pandangannya sebagai seorang individu, seperti
siswa yang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar