Sabtu, 10 Januari 2015

Pertemuan Keempat

Dosen Mata Kuliah Heni Rita Susila, M. Pd

Teori belajar menurut Edwin Guthrie

Menggunakan variable hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun, ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis bagaimana yang dijelaskan oleh Clark Hull.
Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu selama kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap. Ia juga mengemukakan agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut.
Teori belajar menurut skinner
Konsep-konsep yang di kemukakan oleh skinner tentang belajar  mengungguli konsep-konsep lain yang di kemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana,  namun dapat menunjukan konsepnya tentang belajar lebih konprehensif.
Menurut skinner hubungan stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungan, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sederhana yang di gambarkan oleh para tokoh sebenarnya.
Skiner juga mengemukakan bahwa dengan mengemukakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang di gunakan  perlyak penjelasan lagi, demikian dan seterusnya.
Teori behavioristik banyak di kritik karna sering kali tidak mampu menjelaskan situasi yang kompleks,  sebab banyak variable atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan /atau belajar yang tidat di rubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon.
Contohnya, seorang siswa dapat belajar dengan baik setelah di beri stimulus tertentu. Tetapi setelah di beri lagi stimulus yang sama bahkan lebih baik, ternyata siswa tersebut tidak mau untuk belajr lagi. Di sinilah permasalahannya ternyata teori behavioristik tidak mampu menjelaskan alas an-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon.
Teori behavioristik juga cendrun mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan tiori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shping, yaitu membantu siswa menuju atau mancapai target tertentu sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan di gunakannya hukun kegiatan belajar. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negative (negative reinforcement) cenderung membatasi siswa untuk bebas berfikir dan berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
1.    Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.
2.    Dampak psikologis yang buruk mungkin akan berkondisi menjadi bagian dari jiwa si terhukum bila hukuman berlangsung lama.
3.    Hukuman mendorong siswa terhukum mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman.
Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadang kala lebih buruk dari pada kesalahan yang di perbuatnya. Skinner lebih percaya kepada apa yang di sebut sebagai penguat negative, penguat negative tidak sama dengan hukuman. Tidak samanya terletak pada bila hukuman harus di beri (sebagai stimulus) agai respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada , sedangkan penguat negative ( sebagai stimulus) harus di kurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat.
Misalnya, seorang siswa perlu di hukum  karena melakukan kesalahan, jika, siswa tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus di tambah. Tetapi jika sesuatu tidak mengenalkan siswa (sehingga ia melakukan kesalahan) di kurangkan (bukan malah di tambah) dan pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya, maka ini lah yang di sebut penguat negative. Lawan pengut negative adalah penguat positif (positife reinforcement).

Aplikasi Teori Belajar Behavioristik dalam Pembelajaran
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak pada hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus dengan responnya, mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.
Respon atau perilaku tertentu dapat di bentuk karna di kondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila di berikan renforcement dan akan menghilang bila di kenai hukuman.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal, seperti:
·         Tujuan pembelajaran.
·         Sifat materi pelajaran.
·         Karakteristik siswa
·         Media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia
Pembelajaran yang direncanakan dan di laksanakan berpijak pada teorii behavioristik,memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik di tekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah di [pelajari dalm bentuk respon (laporqn kuis, dan tes).
Secara umum langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang di kemukakan oleh dan resetia irawan (2001) dapat di gunakan dalam merancang pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi :
1.      Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran
2.      Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentikasi pengetahuan awal (entry behavior) siswa.
3.      Menentukan  materi pelajaran
4.      Memecahkan materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil, meliputi pokok bahasan, subpokok, topic, dsb
5.      Memberikan stimulus, dapat berupa : pertanyaan baik lisan maupun tertulis, tes/kuis, latihan atau tugas-tugas
6.      Mengamati dan mengkaji respon yang di berikan siswa
7.      Memberikan penguatan/reinforcement (mungkin penuatan positif atau pun penguatan negatif) ataupun hukuman.
8.      Memberikan stimulus baru
9.      Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa
10.  Memberikan penguatan lanjutan penguatan lanjutan atau hukuman
11.  Demikian seterusnya
12.  Evaluasi hasil belajar

Semoga Bermanfaat... 

Eka Hendra

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar