Sabtu, 10 Januari 2015

Pertemuan Ketiga



TEORI BEHAVIORISTIK 

Dosen Mata Kuliah Heni Rita Susila, M. Pd


Pengertian Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik
Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimuus dan respon. Dengan kata lain, belajar adalah bentuk perubahan tingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi stimulus dan respon.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Apa saja yang di berikan guru (stimulus) dan apa saja yang di hasilkan siswa (respons), semua harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya suatu respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.
Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respon.
Tokoh-tokoh aliran behavioristik diantaranya adalah :
Teori belajar menurut Thorndike
Belajar adalah proses interaksi antara stimulis dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti fikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat di tangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang di munculkan peserta didik ketika balajar, yang juga dapat berupa fikiran, pearasaan, atau gerakan/tindakan.
Dari defenisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut juga aliran koneksionisme (connectionism).
Teori Classical Connditioning (IP Pavlov)
Pavlov menekankan bahwa tidak semua stimulus dapat dianggap sebagai variable anteseden dari peristiwa belajar. Stimulus yang tidak menyebabkan terjadinya aktifitas disebut sebagai stimulus  fisiologis terutama melalui system reseptor. Stimulus fisiologis biasanya hanya dapat memunculkan reflaks, sehimgga diperlukan adanya stimulus yang terkondisi untuk merubah reflex menjadi aktifitas belajar.

Semoga Bermanfaat...
Eka Hendra

1 komentar: