TEORI BEHAVIORISTIK
Dosen Mata Kuliah Heni Rita Susila, M. Pd
Pengertian
Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik
Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat
dari adanya interaksi antara stimuus dan respon. Dengan kata lain, belajar
adalah bentuk perubahan tingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi stimulus dan respon.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan
atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons.
Apa saja yang di berikan guru (stimulus) dan apa saja yang di hasilkan siswa
(respons), semua harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan
pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat
terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran
behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa
saja yang dapat memperkuat timbulnya suatu respon. Bila penguatan ditambahkan
(positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila
penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.
Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang
penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan
terjadinya respon.
Tokoh-tokoh aliran
behavioristik diantaranya adalah :
Teori belajar menurut
Thorndike
Belajar adalah proses interaksi antara stimulis dan
respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan
belajar seperti fikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat di tangkap
melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang di munculkan peserta
didik ketika balajar, yang juga dapat berupa fikiran, pearasaan, atau
gerakan/tindakan.
Dari defenisi belajar tersebut maka menurut Thorndike
perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat diamati. Teori
Thorndike ini disebut juga aliran koneksionisme (connectionism).
Teori Classical
Connditioning (IP Pavlov)
Pavlov menekankan bahwa tidak semua stimulus
dapat dianggap sebagai variable anteseden dari peristiwa belajar. Stimulus yang
tidak menyebabkan terjadinya aktifitas disebut sebagai stimulus fisiologis terutama melalui system reseptor.
Stimulus fisiologis biasanya hanya dapat memunculkan reflaks, sehimgga
diperlukan adanya stimulus yang terkondisi untuk merubah reflex menjadi
aktifitas belajar.
Semoga Bermanfaat...
![]() |
| Eka Hendra |

komen balik dong http://jayantikarisma.blogspot.com/
BalasHapus